KalenderPusat

KalenderPusat

Kalender Astronomi 2026

Kalender astronomi 2026: jadwal gerhana matahari dan gerhana bulan, puncak hujan meteor (Quadrantid sampai Geminid), ekuinoks dan solstis dalam WIB, purnama super, lengkap dengan fase bulan hari ini dan alat cek fase bulan dari tanggal mana pun. Gerhana yang teramati dari Indonesia pada 2026 adalah gerhana bulan total 3 Maret.

Fase Bulan Hari Ini

Cek Fase Bulan per Tanggal

Pilih tanggal mana pun — misalnya tanggal lahirmu — untuk melihat fase bulannya.

Fenomena Langit 2026

Jadwal lengkap gerhana, puncak hujan meteor, pergantian musim astronomis, dan purnama istimewa sepanjang 2026. Waktu memakai WIB.

TanggalFenomenaKategoriCatatan
3 Januari 2026Purnama Super (Supermoon)Fase BulanPuncak purnama pukul 17.04 WIB; Bulan tampak sedikit lebih besar dan lebih terang dari biasanya.
Malam 3–4 Januari 2026Puncak Hujan Meteor QuadrantidHujan MeteorHingga ±120 meteor/jam di belahan utara; dari Indonesia radiannya rendah di ufuk utara menjelang dini hari, dan cahaya purnama mengganggu pada 2026.
17 Februari 2026Gerhana Matahari CincinGerhanaJalur cincin melintasi Antartika; tidak teramati dari Indonesia.
3 Maret 2026Gerhana Bulan TotalGerhanaTeramati dari Indonesia pada petang hari saat Bulan terbit, bertepatan dengan purnama Cap Go Meh.
21 Maret 2026Ekuinoks MaretMusimPukul 04.58 WIB; Matahari tepat di atas khatulistiwa sehingga panjang siang dan malam hampir sama di seluruh dunia.
Malam 22–23 April 2026Puncak Hujan Meteor LyridHujan Meteor±18 meteor/jam pada langit gelap tanpa polusi cahaya.
Malam 5–6 Mei 2026Puncak Hujan Meteor Eta AquariidHujan Meteor±50 meteor/jam; salah satu hujan meteor terbaik bagi pengamat Indonesia, puncaknya menjelang dini hari.
31 Mei 2026Purnama Biru (Blue Moon)Fase BulanPurnama kedua dalam bulan Mei menurut kalender UTC; sebutan kalender saja, Bulan tidak benar-benar berwarna biru.
21 Juni 2026Solstis JuniMusimPukul 15.25 WIB; Matahari berada di titik paling utara, menandai awal musim panas belahan bumi utara.
12 Agustus 2026Gerhana Matahari TotalGerhanaJalur totalitas melintasi Greenland, Islandia, dan Spanyol; tidak teramati dari Indonesia.
Malam 12–13 Agustus 2026Puncak Hujan Meteor PerseidHujan Meteor±100 meteor/jam dan 2026 nyaris bebas cahaya Bulan karena bertepatan bulan baru; dari Indonesia radiannya rendah di utara, terbaik menjelang dini hari.
28 Agustus 2026Gerhana Bulan SebagianGerhanaPuncak gerhana berlangsung siang hari WIB sehingga tidak teramati dari Indonesia.
23 September 2026Ekuinoks SeptemberMusimPukul 07.06 WIB; Matahari kembali tepat di atas khatulistiwa.
Malam 21–22 Oktober 2026Puncak Hujan Meteor OrionidHujan Meteor±20 meteor/jam; berasal dari serpihan komet Halley dan cukup baik diamati dari Indonesia.
Malam 17–18 November 2026Puncak Hujan Meteor LeonidHujan Meteor±15 meteor/jam menjelang dini hari.
24 November 2026Purnama Super (Supermoon)Fase BulanPuncak purnama pukul 21.53 WIB.
Malam 14–15 Desember 2026Puncak Hujan Meteor GeminidHujan Meteor±150 meteor/jam, hujan meteor terkuat tahun ini; Bulan sabit muda terbenam awal malam sehingga langit cukup gelap.
22 Desember 2026Solstis DesemberMusimPukul 03.50 WIB; Matahari berada di titik paling selatan, hari terpanjang di belahan bumi selatan.
24 Desember 2026Purnama Super (Supermoon)Fase BulanPurnama terbesar dan paling terang sepanjang 2026, jatuh pada malam Natal.

Jumlah meteor per jam adalah angka ideal (ZHR) pada langit gelap tanpa polusi cahaya; kondisi nyata bergantung lokasi dan cuaca.

8 Fase Bulan

Bulan menempuh satu siklus fase (sinodik) setiap sekitar 29,5 hari.

Bulan Baru

Bulan sejajar dengan Matahari sehingga sisi terangnya membelakangi Bumi dan tidak terlihat.

Sabit Muda

Sabit tipis muncul di ufuk barat sesaat setelah matahari terbenam.

Perbani Awal

Separuh piringan Bulan terang; terbit siang hari dan terbenam sekitar tengah malam.

Cembung Awal

Lebih dari separuh piringan terang dan terus membesar menuju purnama.

Purnama

Seluruh piringan terang; Bulan terbit saat matahari terbenam dan terlihat sepanjang malam.

Cembung Akhir

Piringan terang mulai menyusut setelah purnama; terbit setelah magrib.

Perbani Akhir

Separuh piringan terang; terbit sekitar tengah malam dan terlihat hingga pagi.

Sabit Tua

Sabit tipis terlihat di ufuk timur menjelang subuh sebelum kembali ke bulan baru.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Gerhana apa saja yang terjadi pada 2026?

Ada empat gerhana pada 2026: gerhana matahari cincin 17 Februari (Antartika), gerhana bulan total 3 Maret, gerhana matahari total 12 Agustus (Greenland, Islandia, Spanyol), dan gerhana bulan sebagian 28 Agustus.

Kapan gerhana yang terlihat dari Indonesia pada 2026?

Dari Indonesia hanya gerhana bulan total 3 Maret 2026 yang teramati, berlangsung petang hari saat Bulan terbit. Tiga gerhana lainnya terjadi di wilayah atau jam yang tidak terjangkau dari Indonesia.

Kapan hujan meteor terbaik 2026?

Geminid pada malam 14–15 Desember 2026 (±150 meteor/jam, langit mendukung karena Bulan sabit muda terbenam awal malam) dan Perseid pada malam 12–13 Agustus yang nyaris bebas cahaya Bulan. Bagi pengamat Indonesia, Eta Aquariid awal Mei juga termasuk yang terbaik.

Apa itu supermoon dan kapan terjadi pada 2026?

Supermoon adalah purnama yang terjadi saat Bulan berada dekat titik terdekatnya dengan Bumi (perigee) sehingga tampak lebih besar dan terang. Pada 2026 ada tiga: 3 Januari, 24 November, dan 24 Desember — yang terakhir adalah purnama terbesar tahun ini.

Apa itu ekuinoks dan solstis?

Ekuinoks adalah saat Matahari tepat di atas khatulistiwa sehingga siang dan malam hampir sama panjang (2026: 21 Maret dan 23 September WIB), sedangkan solstis adalah saat Matahari berada paling utara atau paling selatan (2026: 21 Juni dan 22 Desember WIB). Di Indonesia yang berada di khatulistiwa, panjang siang relatif stabil sepanjang tahun.

Apakah ada blue moon pada 2026?

Ada. Purnama kedua dalam bulan Mei 2026 jatuh pada 31 Mei (kalender UTC) dan biasa disebut blue moon bulanan. Istilah ini hanya sebutan kalender — warna Bulan tidak berubah menjadi biru.

Seberapa akurat fase bulan di halaman ini?

Fase bulan dihitung dari siklus sinodik rata-rata 29,53 hari dengan deviasi maksimum sekitar setengah hari dari momen astronomis persisnya — cukup akurat untuk nama fase dan persentase iluminasi. Untuk momen purnama atau bulan baru yang presisi, rujuk almanak astronomi.

Jadwal fenomena dirangkum dari sumber astronomi internasional dan dikonversi ke WIB; fase bulan dihitung dari siklus sinodik rata-rata sehingga bisa berbeda beberapa jam dari momen persisnya. Untuk tanggal merah dan hari libur nasional, kembali ke Kalender Indonesia.